Waktu Sendiri

Sebelum hari berganti dan saat memulai hari usai terlelap, kamu merasakan kesedihan yang amat sangat. Perasaan ini seiring dengan ketakutan dan aliran trauma yang membuatmu kembali bermimpi buruk, berkali-kali dalam satu malam. Kamu menyadari pada waktu sendiri dan menyendiri itulah kamu merasakannya. Sadar atau tidak, kamu memang memerlukannya.

Waktu sendiri hadir untukmu menghirup nafas lebih dalam.

Melambatkan ritme pikiran agar lebih tenang. Memahami diri lebih baik. Sekaligus melakukan penerimaan diri. Menerima semua konsekuensi dari semua keputusan-keputusan hidup. Menuliskan refleksi dan introspeksi di waktu yang diberikan Tuhan untuk kamu jalani rutin.

Kamu bisa memulai dengan menjawab pertanyaan sederhana is it right or wrong? Apakah layak untuk diteruskan atau berbalik arah di setiap detik yang kita kuasai. Menetapkan kembali keputusan-keputusan lain yang akan berdampak besar untuk hidup ke depannya. 

Yang sudah berlalu, ya sudah. Tempatkanlah secara adil pada ruang dan waktunya. Sekali lagi, terimalah ia menajdi bagian diri kamu. (Si)apapun itu, ia tidak akan pernah lepas. Selalu ada dan terbawa. Namun hanya kamu sendiri yang bisa mengontrol seberapa besar pengaruhnya dalam hidup kamu. Untuk melangkah maju. Apakah kamu bisa merasa lega dan bebas, atau dikekang dan terbeban.

Kamu seringkali menghindarinya bukan? Sungguh kadang ia cukup dijadikan pelajaran, bukan untuk diabaikan.

If you think that you must stop, just stop. Take a deep breath

Lalu sampaikanlah bye, bye. Kamu selesai dengan masa lalu. Kamu kuat untuk menerimanya. Karena, sungguh, penerimaan adalah awal untuk memaafkan. Dan memaafkan adalah awal untuk mengikhlaskan

Tugasmu di saat kamu kembali terjaga seperti ini adalah refleksi dan introspeksi.

Cukup. Cukupkkan dirimu untuk mengulang-ulang, terus mengulang, mengulang kembali hal-hal yang membuatmu sedih. Mengingatkanmu akan trauma. Membuatmu menangis dalam diam. Membuatmu terasing dari dunia

Aku lebih peduli kepadamu, lebih dari siapapun di dunia ini

Sudah berbulan-bulan kamu tampak mengenaskan. Hari ini kamu berkata kembali terlihat mengenaskan. Mungkin besok-lusa akan kembali hal yang sama

Bayangkan. Kamu punya banyak potensi kebaikan. Kamu menyenangkan orang banyak. Kamu didoakan oleh orang-orang yang ingin melihatmu kembali tersenyum. Kamu selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam setiap prioritas hidup

Bisa dinikmati sejenakkah kebahagiaan semacam itu?

Untuk mengembalikan semangat juang esok hari. Seminimal mungkin itulah yang harus kamu pikirkan supaya besok tidak mengenaskan kembali. Meskipun kamu diam dan berkata baik-baik saja, kamu itu begitu perasa. Orang lain bisa tertular kepekaannya dan mengetahui kamu sedang tidak baik-baik saja.

Jadi intinya,

Kalau keadaanmu semakin memburuk, almost depressed, makin menjauh dari sosial, dan makin toleran atas tujuan hidupmu yang tadinya ketjeh. Sebaiknya kamu bersiap untuk lekas pergi. Kamu layak untuk bahagia, dan kamu mampu menularkan kebahagiaan karenanya.

Kebahagiaan yang lebih luas lagi, lebih banyak lagi, lebih tinggi lagi. Kebahagiaan yang seringkali kamu hanya rapalkan dalam tangis doa penuh kerinduan.

sumber gambar unsplash.com

Share: