Terlambat

Alkisah ada seorang lelaki yang memiliki penyakit keterlambatan. Sudah berkepala dua namun ia masih terjebak dalam dunia imajinasi penuh warna. Ia masih berpikiran layaknya anak anak yang sedang bermain dan mempermainkan apapun, termasuk logika universal dan perasaan orang lain.

Tak hanya psikisnya yang menyimpang, perkembangan fisiknya pun seolah mengamini penyakit keterlambatannya tersebut. Di saat yang lain sudah mencapai garis finish dalam kematangan pikiran dan tubuh sewaktu masih berstatus siswa, ia baru saja ingin berlari saat masuk dunia kampus dan masih terus berlari hingga sekarang.

Pernah beberapa kali ia meratapi kondisi yang menghantuinya saat ini. Menyalahkan lembaran takdir yang telah digoreskan Tuhan. Kufur atas nikmat yang melekat padanya. Orang tua nya tak tahu secara pasti kondisi anaknya karena dianggap telah mandiri.

Ia akhirnya terpaksa mencari jawabannya sendiri. Kenapa hal tersebut bisa terjadi. Bagaimana dampaknya ke orang lain. Bagaimana kalau ia berubah 180 derajat dari biasanya. Ia terus menerus mengurai jawaban yang berputar putar dalam pikirannya.  Satu hal yang ia tahu adalah selama ini ia melakukan pola kesalahan yang sama.

Ia hanya tak tegas dalam menetapkan sesuatu. Semuanya serba abu abu. Menggantungkan kenangan dan akhirnya meninggalkan luka pikiran. Ia mengorbankan hampir semua namun hanya kembali dengan tangan hampa.

Lelaki itu terlihat sendiri dan kesepian. Rasa kantuk dan lapar tak ia hiraukan walau mereka telah muncul sejak berjam jam yang lalu. Pikirannya terfokus atas pusaran pengalaman dan pengamatan yang selama ini dilakukannya.

Ia kemudian menangis. Tak tahu harus berbuat apa atas konsekuensi logis bermain peran khidupan. Topeng topeng yang selama ini ia gunakan telah lusuh termakan zaman. Ia mulai diliputi rasa takut atas dirinya sendiri. Ia kemudian yakin bahwa ia hanyalah buih di tengah kompleksitas hubungan sosial.

Iba namun tak tahu berbuat apa ketika melihatnya. Aku hanya terdiam mematung. Sedetik kemudian, perlahan ku hapus jejak bulir air matanya yang tergenang. Ku katakan padanya untuk tenang dan menghembuskan nafas panjang. Aku tersenyum pada nya seolah mengatakan bahwa ini akan baik baik saja. Ia membalas senyuman ku namun bibirnya kembali seperti sebelumnya. Kami pun saling bertatapan dan akhirnya dengan setengah berbisik, ku katakan padanya bahwa ia adalah masa lalu yang ku harap tidak akan muncul kembali. Aku bersiap pergi dan meninggalkannya. Ku padamkan lampu dan bersiap terlelap. Cermin ini menjadi saksi bisu atas pengakuan kelemahan diri.

Depok
6 Juli 2013
00:00

sumber gambar dari unsplash.com

Share: