Semua Orang Itu Pintar

Ada sebuah pernyataan menarik dari Profesor Yohanes Surya (Fisikawan Indonesia) yaitu “Tidak ada orang bodoh, yang ada adalah orang-orang yang tidak mendapat kesempatan mendapat guru yang tepat”. Bagi saya sendiri, pernyataan tersebut benar adanya. Semua orang mempunyai bakatnya masing-masing, secara spesifik (khusus), dan akan sulit ditemukan bila terkotak-kotakkan oleh indikator bersifat pasti, seperti nilai dan kemampuan dasar lainnya.

Salah seorang sahabat saya pernah berkata bahwa “pendidikan formal di Indonesia cuma mengebiri kreativitas, mengebiri mimpi”. Ya, orientasi pendidikan kita sangat bias. Bias karena Negara menjamin pendidikan sebagai hak (freedom), namun di sisi lainnya pendidikan seolah masih menjadi barang mahal bagaikan jasa atas dasar ekonomi. Pendidikan kita menolak argumen para peserta didiknya dan terus mensetting seenaknya dalam kurun waktu tertentu dengan menganti kurikulum ajar namun tak substansial. Bayangkan saja, pendidikan kita kurang memperlihatkan ke-khas-an negaranya, sehingga kita terkadang lupa identitas kita sebagai bangsa Indonesia.

Dari itu semua saya berpendapat bahwa pendidikan kita hanyalah mengajarkan tanpa mendidik para peserta didiknya. Bagi saya, pengajaran dapat dilakukan dimana saja, oleh siapa saja dan kapan saja. Ia akan ada dalam setiap titik dalam garis horizon kehidupan kita. Tapi lain hal nya dengan pendidikan. Pendidikan berorientasi pada nilai-nilai luhur yang lokal dan universal. Bila pengajaran hanya bersifat transfer ilmu dan pengetahuan belaka, maka pendidikan lebih dari itu. Pendidikan ada untuk memanusiakan manusia. Pendidikan ada untuk membuat manusia kembali ke fitrahnya sebagai manusia, yaitu hamba Ilah, individu dan makhluk sosial, dan makhluk yang peduli kepada lingkungannya. Ya, bagi saya pendidikan ada untuk menyadarkan setiap orang atas kelemahannya dan mengasah kembali kelebihannya. Pedang yang tajam adalah yang terus ditempa dan diasah bukan seonggok besi hitam tak tersentuh.

Terakhir, Saya akan mencontohkan kisah nyata mengenai salah satu adik saya mengenai tema ini. Dicap bodoh dan malas-malasan adlaah makanan sehari-hari baginya. Ayah dan Ibu saya pun kerapkali menangis mendoakannya dan berusaha menyadarkan para pengajarnya. Ia sangat sulit sekali menerima pelajaran, namun jangan ditanya kemampuannya dalam hal ide-ide (imajinasi liar) yang kemudian dituangkannya dalam berbagai karya seni. Ya, seminggu yang lalu pada tanggal 25 November, Ia berhasil memenangkan IPB Physics Expo 2012 untuk memperebutkan piala BATAN dalam lomba design poster dengan tema “nuclear for welfare”. Ia mengalahkan para kompetitor yang berasal dari golongan mahasiswa, bahkan wakil dari UI pun hanya menempati peringkat dua. Ia pula mengalahkan teknologi design ala corel draw atau photoshop dengan hanya menggunakan pensil warna. silahkan lihat posternya di sini

Ya, semua orang itu pintar, tapi ia harus disadarkan kepintarannya oleh guru yang tepat.

Sumber gambar pexels.com

Share: