Resah

Tempo hari, sahabatku Bara Lintar mengungkapkan salah satu alasan mengapa aku sulit menulis akhir-akhir ini. Di matanya, aku sudah berada dalam zona nyaman. “Menulis itu lahir dari keresahan,” begitu ujarnya. Mendengar pernyataannya tersebut, aku terdiam. Mengamini dalam hati.

Sehari-hari aku kerap menikmati sosial media dan punya kegelisahan tersendiri atas isu-isu yang terjadi di sekitar lingkunganku bekerja, atau sekadar viral di dunia maya. Banyak sekali tulisan yang kadang dibuat dalam fitur instasory dalam memperlihatkan pandanganku atas suatu isu. Namun untuk menuliskannya dalam suatu tulisan utuh dan dipublikasikan sendiri rasanya begitu sulit.

Aku teringat alasanku menulis. Ada keresahan atas pandangan sebagian masyarakat yang begitu parsial. Ada keresahan atas ilmu yang kupelajari selama ini kurang menjadi pisau analisis dalam memandang suatu fenomena. Ada keresahan ketika aku tiada dan merasa tidak berhasil memberikan kebermanfaatan sekecil apapun. Ada keresahan atas ketidakmampuanku berkata di depan publik secara langsung. Ada keresahan atas kesedihan yang selama ini mengendap dan berpotensi menjadi energi yang negatif pemicu stres maupun depresi. Ada begitu banyak keresahan yang membuatku ingin mengeluarkan karya atasnya

Begitupun tulisan kali ini. Aku resah atas diriku sendiri yang tidak mampu menulis seperti dahulu. Keadaannya mungkin banyak berubah. Aku lebih banyak memikirkan resiko atas dasar pekerjaan. Aku lebih banyak merasakan kesedihan diri sendiri dibandingkan menyerap sisi gelap orang lain. Aku lebih banyak tertutup atas banyak hal dan mulai membuka diri atas hal-hal baru. Aku menjadi lebih tenang atas menanggapi banyak hal jika memang bukan sebagai ahli di bidangnya.

Kondisi demikian tentu berbeda saat menjadi mahasiswa. Merasa paling benar dan berasaskan moral, kami bisa berteriak mengatasnamakan Tuhan ataupun Rakyat. Bahwa ada kesalahan yang ditunaikan oleh para pejabat. Bahwa ada kekeliruan yang berujung pada kebencian dan kesedihan. Bahwa ada tangis yang kuteriakkan di pinggir danau UI saat kejengahan atas perpolitikan melanda. Bahwa ada rutinitas buku, pesta dan cinta yang mewarnai dinamika keresahan itu semua

Aku teringat alasanku menulis. Aku resah dengan begitu banyak aksara dalam berbagai kamus bahasa, namun tetap saja tak bisa mengungkapkan rasa yang menggetarkan dada.

sumber gambar dari unsplash.com

Share: