Perhatian

Hape saya bergetar. Saya bergumam dalam hati. Perempuan (itu) lagi. Setengah mengantuk, perlahan saya membaca pesan tersebut.

Do lu dmana?

Bukan yang pertama kalinya peristiwa ini terjadi. Terkadang dimulai dengan Apa kabar dho? Bahkan ada yang hanya mengirimkan satu kata yaitu Ridhoooo atau do.

Ya, saya memikirkan berbagai pesan tersebut atau kiriman kiriman tekstual berbau serupa yang menghiasi lembaran memori hape hampir setiap (tengah) malam. Terkadang ada juga yang saya terima saat sang mega merah baru akan memunculkan kilaunya. Setidaknya pola ini selalu berulang dengan tujuan/ kepentingan yang berbeda layaknya siklus dalam pelajaran biologi. Entah sekadar untuk berdiskusi, meminta saran akan sesuatu, ataupun mengajak bertemu. Terkadang saya dibuat bingung karena saat ditanya ada apa, jawabannya adalah tidak ada apa apa. Menanggapi jawaban seperti itu saya hanya bisa tertawa. Lalu buat apa menghubungi? Ga jelas! Haha

Basa basi. Setidaknya itulah tanggapan salah seorang teman saya saat menanyakan fenomena sosial ini. Apa yang saya ketahui adalah setiap orang memiliki masalah. Mungkin ia sedang mengalami kebingungan atas permasalahan roda kehidupan dan mencari suatu “tong sampah” pelampiasan. Atau bisa jadi apa yang saya ketahui adalah secara esensial setiap orang memang membutuhkan orang lain. Mungkin saya dibutuhkan untuk sekadar memperlihatkan bahwa eksistensinya tetap ada dengan munculnya tanggapan tanggapan saya. Mungkin karena ia ingin sekadar didengar. Mungkin ia rindu dengan saya. Mungkin ia hanya mencoba mencari alasan tertentu yang memang sulit dicari. Ah, entahlah. Terlalu banyak kemungkinan.

Nyaman. Jawab teman saya yang lain saat saya ceritakan kondisi ini. Mungkin karena saya hampir selalu tersedia (dengan mudahnya) saat ia membutuhkannya. Jawaban ini ada benarnya dan terkesan logis. Hal ini dikarenakan saya sulit sekali menolak mereka yang memang ingin curhat. Saya sempat berpikir bahwa memang tak ada salahnya menjadi pendengar (walau secara tidak langsung) di setiap pergantian hari. Mendengarkan masalah orang lain terkadang membangkitkan gairah kehidupan tersendiri. Bahkan teman saya ini malah menyarankan untuk menerapkan tarif dengan jasa “mendengar” ini. Fufu (Usul yang tidak buruk).

Tidak usah ditanggapi semuanya. Komentar sahabat saya yang khawatir dengan kondisi ini bila terjadi terus menerus. Bila diingat ingat, sejak mendapatkan “profesi pendengar” ini, saya memang menjadi kurang makan, kurang tidur, dan kurang bermain (atau dapat dikatakan unuk melakukan refreshing). Kurang makan itu sangat jelas terjadi karena saya menjadi tidak nafsu makan. Memikirkan masalah yang seharusnya tidak harus dipikirkan yang seolah dibebankan ke saya padahal tidak. Kurang tidur pun menjadi wajar karena sesi mendengar hampir terjadi setiap jadwal pergantian hari. Bahkan seolah ada yang menjadi “pelanggan tetap”. Kurang bermain atau refreshing ini sangat terlihat saat orang lain mulai berkata semangat setiap kali bertemu saya yang terlihat seperti zombie di matanya. Sial, saya tahu seorang introvert memang punya konsekuensi demikian saat harus mendapatkan “nyawa” dari orang lain. Namun, agaknya wadah yang saya punya telah berlebihan (sesuatu yang berlebihan itu tidak baik). Kapasitas pikiran ini mungkin sudah tidak mencukupi lagi.

….
….
….

Saya terdiam sebelum akhirnya kembali merangkai lembaran terakhir dari tulisan ini. Muncullah pemikiran bahwa saya tidak mungkin selamanya menjadi pendengar yang baik, jadi tolong mengerti bahwa saya butuh waktu sendiri. Namun entah kenapa, saya tepis jauh jauh pernyataan tersebut. Persetan lah dengan berbagai kemungkinan penyebab kondisi ini. Persetan pula dengan berbagai dampak (buruk) yang akhirnya saya terima setelahnya. Saya merasa bahwa saya pun diuntungkan, karena terkadang apa yang terjadi adalah sebaliknya yaitu ia lah yang menjadi pendengar (walau tetap ujung ujung nya saya lah yang menjadi mendengar lebih banyak). Ya, saya beranggapan waktu kan selalu tersedia untuknya.

Saya tersenyum. Hal yang saya ketahui selanjutnya adalah bahwa kami sama sama memerhatikan. Mencoba paling mengerti saat musibah menjangkiti. Mencoba terdepan saat membutuhkan pertolongan. Mencoba memahami makna yang tersembunyi di balik kata. Hmmm.. Bentuk bentuk perhatian inilah yang (terkadang) dianggap menjadi hal yang tidak masuk akal bila dicoba diterjemahkan. Karena bagi saya, perhatian adalah buah dari perasaan yang sulit dirasionalisasikan. Ya, akhirnya kesimpulan pun bermuara dengan pernyataan bahwa (bagi saya) bentuk bentuk perhatian inilah yang justru membuat seorang perempuan menjadi terlihat cantik di hadapan seorang laki laki.

Balik Rel
02/07/2013
00:00

sumber gambar dari unsplash.com

Share: