Menabung Terima Kasih

Sebelum menikah, saya dan istri belajar untuk menyelesaikan konflik secepat mungkin, tidak memendamnya sebelum terlelap, atau bahkan membiarkan berlarut-larut bagaikan api dalam sekam. Saya teringat salah satu surat-Nya bahwa manusia berada dalam kerugian yang nyata. Selain iman dan amal shaleh, ada dua perbuatan lain agar manusia tidak tenggelam dalam kehidupan penuh kerugian yaitu saling menasehati dalam kebaikan maupun kesabaran.

Kepadamu, saya ingin bercerita tentang hikmah yang kupikirkan kali ini. Ada beberapa kesalahan yang sejatinya berasal dari keputusan keliru, di sinilah kami saling belajar untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Namun kadangkala terdapat kesalahan yang sejatinya bersumber dari karakter membatu, di titik inilah kami membiasakan diri untuk saling mengingatkan dalam kesabaran.

Untuk masalah yang pertama, kami berusaha saling mengingatkan untuk menyampaikan permohonan maaf sekaligus mencegahnya terulang kembali. Namun untuk masalah kedua, kami berusaha saling belajar untuk menerima dan menabung terima kasih. Begitulah. Khusus untuk masalah kedua, pola yang sama bisa jadi terulang. Bukankah karakter telah terbangun selama puluhan tahun atas dasar latar belakang masing-masing? Karena itulah kami belajar agar bisa mengurangi dampak buruknya

Tujuannya sederhana: untuk menjaga keharmonisan dan memperjuangkan sakinah untuk kami berdua

Kami beruntung memiliki akar perspektif yang sama dalam hal keilmuan. Dalam kriminologi yang saya pelajari, kejahatan adalah sesuatu yang nisbi dan akan selalu ada selama masih ada manusia. Setiap orang berpotensi menjadi pelaku dan korban dari suatu kejahatan. Karena itulah, polanya dipelajari dan dicarikan upaya pencegahannya sekaligus meminimalisir dampak buruknya. Kriminologi berada pada spektrum sebelum dan sesudah proses dalam dunia hukum melalui pengadilan

Begitupun dengan ilmu kesehatan masyarakat yang istri saya tekuni, penyakit bukanlah sesuatu yang begitu saja hilang di dunia dan akan selalu berkembang sesuai dengan aliran sang kala. Setiap orang berpotensi untuk menularkan penyakit yang tidak disadarinya dan rentan untuk mendapatkan penyakit dari mana saja. Karena itulah, kesehatan itu dapat dijaga melalui upaya preventif dan promotif, bukan sekadar kuratif. Ilmu kesehatan masyarakat berada dalam diskursus yang tidak hanya berbicara soal dokter dan Rumah Sakit, melainkan dari unit sesederhana diri sendiri dan rumah tangga.

Dari perspektif itulah, saya menegaskan sejak awal hubungan kami berdua untuk saling belajar seni meminta maaf dan menabung terima kasih. Saya menyebutnya dengan istilah seni, karena memang banyak teknik untuk meminta maaf untuk setiap jenis kesalahan. Ada kalanya saya butuh jeda sejenak sebelum akhirnya terucap 1-2 kata. Ada kalanya saya langsung menyadarinya dan menyampaikan latar belakang-alasan dari kesalahan tersebut. Ada kalanya sebelum maaf itu diutarakan, saya mencoba mengalihkan dengan cerita yang berbuah tawa. Ada kalanya kami butuh waktu berdua saja dan menunda berbagai kegiatan yang tadinya terencana dalam agenda. Namun, satu hal yang pasti, maaf itu bagaikan batu bertuah yang membuahkan satu rasa: lega.

Di sisi lain, saya ingin terus menabung terima kasih. Istilah tabungan sejatinya merujuk pada awal hubungan kami berdua, sulit sekali mencari titik temu itu. Selalu ada beda yang ditemukan di setiap sua. Selalu ada cela yang dimunculkan ke permukaan. Konflik menjadi rutinitas dan maaf kerapkali menjadi warisan ingatan. Sampai akhirnya saya menyatakan kepadanya yang kini telah menjadi sang istri

“Sepanjang hari ini, Ayang sudah meminta maaf sebanyak 7 kali loh ke Aa. Sayangku, Aa tidak mau terlalu banyak mengingat kata maaf darimu. Lebih baik kita menabung terima kasih juga. Jadi selain melatih kesabaran, kita juga saling belajar untuk mensyukuri hidup agar lebih bahagia”

Saya juga pernah menyampaikan analogi sederhana kepadanya. Setiap hari kita banyak mendapatkan manfaat listrik untuk memudahkan hidup kita, namun ketika ia terputus dan kita mengalami mati lampu, barulah kita mencari-cari kesalahan dari PLN sebagai lembaga yang bertanggung jawab atasnya. Kita alpa untuk sekadar berterima kasih atas nikmat itu. Bayangkan itu juga kita lakukan terhadap pasangan kita, kepada orang tua, kepada keluarga, tetangga, dan seterusnya hingga Tuhan Yang Maha Esa. Betapa banyak waktu yang sejatinya kita harus sikapi dengan rasa syukur dan apresiasi terima kasih bukan?

Saya membaca ulang tulisan ini dan memiliki harapan sederhana. Ya Allah, ketika nantinya saya berada dalam amarah ataupun emosi negatif lainnya kepada istri, saya berharap untuk terus menabung terima kasih dan terus memperjuangkan sakinah bersamanya. Semoga.

Sumber gambar dari unsplash

Share: