Keraguan Sebelum Menikah

Februari 2020 telah tiba, disambut kelabu di sekitar Ibu Kota. Aku harus menunggu hujan reda dan memberi kesempatan kita bersua di tengah kesejukan sang kala. Hari ini kamu diwisuda dan dikelilingi beberapa sahabat yang masih berstatus mahasiswa, sebagian lainnya sudah lulus dan bekerja. Kamu tampak bahagia, dan sungguh aku sangat senang melihatnya. Keluargamu datang lengkap dengan kemeja, kebaya, dan batik seirama. Aku berusaha larut menjadi kita di tengah kerumunan massa bertoga.

Akhir pekan pertama di bulan Februari 2020 akan menjadi momen istimewa. Ah ya, aku lupa menyematkan insyaAllah di kalimat sebelumnya. Kamu akan menjadi istriku. Aku akan menjadi suamimu. Sebagian rahasiaku adalah rahasiamu, dan sebaliknya. Sebaiknya. Begitupun dengan perasaan ragu yang kadang berbisik mengganggu waktu tidurku. Aku berharap bisa mewujudkan lirik lirih dari Payung Teduh. Sedikit cemas, banyak rindunya. Keraguan yang melahirkan tangis kecemasan itu sejatinya manusiawi, bagian dari perasaan dalam qalbu. Tapi kuharap ia hanya sementara dan secukupnya. Aku ingin lebih banyak menabung kerinduan saat terpisah jarak dan waktu.

Sungguh, Aku kerap diselimuti keraguan, seperti banyak cerita di luar sana yang membuat orang sulit memantapkan hati untuk menjadi sepasang suami istri.

Tempo hari sahabatku Kodel menyampaikan kekaguman dan kebahagiaannya atas keputusan kita untuk menikah. Kodel paham bahwa menikah bukan sekadar cinta atas dua insan, tetapi juga komitmen dan perjuangan bersama. Apalagi, Kodel melihat dari dekat sebagian kisah masa laluku yang mengurai air mata. Ah. Satu hal yang pasti, sahabatku ini sangat bahagia mendapatkan undangan langsung dari kita.

Kemarin, Hafizh juga mengamini aliran perasaan bahagia itu. Katanya, selamat atas kesabaran dan kehati-hatian dalam mengenali diri sendiri dan pasangan. Sedikit lagi, perjalanan sesungguhnya baru akan dimulai. Banyak pihak yang nampaknya turut berbahagia. Semoga ini pertanda Allah mewujudkan terbentuknya keluarga yang sakinah. Kau tahu, aku menangis membaca untaian kata yang tersurat dan harapan besar yang tersirat di dalamnya.

* * * * *

Maka, usai bertemu dengan Hafizh, aku menyampaikan kepadamu tentang perasaan yang jauh dari ideal dan proses panjang kita untuk saling menasehati, baik dalam kesabaran dan kebajikan. Aku ragu. Aku takut. Aku khawatir. Aku cemas. Semua perasaan negatif yang kerap, untukku, hanya butuh untuk dikuatkan dengan kata-kata.

Aku terkenang bagaimana bapak para Nabi, Ibrahim AS kerap menuai keraguan sejak usia belia: tentang eksistensi Tuhan, tentang kehidupan setelah tiada, tentang keselamatan keluarganya di tengah padang pasir, tentang perintah untuk menyembelih anak kesayangannya. Lalu, keraguan itu lenyap seketika dengan cara yang luar biasa. Untuk kisah terakhir, kita mengetahui derajat keikhlasan seorang hamba Tuhan di usia muda: Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (Q. S. As Saffat 37:012)

Aku juga mengingat kisah yang diceritakan Abi tentang keraguan Musa atas misi dakwah kepada penguasa zalim pada zamannya. Nabi yang dapat berkomunikasi langsung dengan Allah tersebut menyampaikan permintaan sederhana: Haruna akhi. Harun, saudara kandungku. Musa lalu melanjutkan melalui harapan dalam doa kepada Tuhan: Teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutuku dalam urusanku (Q. S. Thaha 20: 29-32)

* * * * *

Aku pun merefleksikan diri tentang sejarah yang dimulai dari suara bergetar Muhammad pada malam di rumahnya, usai ia menyepi dari keriuhan dunia. zammiluni~ zammiluni~ Selimuti aku, selimuti aku. Sebuah perintah sederhana kepada sang istri, yang kemudian dikenal sebagai Ummul Mu’minin, Khadijah RA.

Sang istri tidak bertanya tentang apa yang terjadi. Ia hanya menuruti permintaan sang suaminya saat itu. Tindakan sederhana, namun sarat akan makna. Aku pun meyakini bahwa Khadijah RA pun tak terbawa dalam arus kepanikan. Ia hanya menunggu dalam diam hingga Rasul tenang, siap untuk menceritakan pengalaman menakutkannya malam itu.

Maka, kisah pertemuan Pemilik gelar al amin dengan Sang penyampai wahyu Tuhan, Jibril AS, itu disampaikan untuk pertama kalinya. Bagaimana Muhammad didekap dan diperintahkan untuk membaca, padahal dirinya adalah seorang yang Ummiy (buta huruf). “Laqad khasyitu ‘ala nafsi – Sungguh, aku takut dengan diriku sendiri,” tutup Muhammad malam itu

Khadijah RA pun menyimak dalam diam, tidak larut dalam kekhawatiran dan kegelisahan. Setelah Rasul selesai bercerita, reaksi Khadijah RA kembali menunjukkan bahwa ia adalah sosok tenang dan tegar.

“Jangan begitu. Demi Allah, Allah tidak akan pernah sekalipun menghinakanmu. Sesungguhnya engkau telah menyambung silaturrahim, membantu menafkahi orang-orang lemah, anak yatim dan (mereka) yang tidak berdaya, memberi bantuan yang tidak mereka dapatkan di tempat lain, memuliakan tamu dan membantu orang-orang yang kehilangan haknya”

Ya, Khadijah menghadirkan berbagai kebaikan dan prestasi Nabi Muhammad SAW selama ia hidup. Ia memberikan sisi lain dari sang Nabi yang mungkin dilupakannya. Ia membuat segala hal negatif yang membayangi sang Nabi menjadi netral, dengan memberikan berbagai hal positif. Untaian kata yang diucapkan Khadijah RA meruntuhkan semua prasangka atas diri Rasul dan takdir Tuhan.

Jangan begitu, Demi Allah, Allah tidak akan pernah sekalipun menghinakanmu

* * * * *

Malam ini, aku sulit terlelap karena tenggelam dalam perasaan ketakutan dan keraguan. Dari jarak 2 jam ke tempatmu, aku kembali bercerita tentang pikiran-pikiran negatif, tentang perasaan yang kerap muncul diiringi gemetar dan tangis. Usai mengucapkan salam, sungguh aku merasakan sejuknya ketenangan melalui kiriman pesan darimu

“Aa, kurangi sama-sama yuk rasa takut yang kita punya. Aku dengan ketakutanku, Aa dengan ketakutan Aa. Biarkan dia datang menghampiri tapi segera biarkan dia pergi. Terus kita mulai lagi deh kegiatan-kegiatan positif yang bisa mengentaskan rasa takut kita (bukan kegiatan yang semata-mata dilakukan untuk melupakan rasa takutnya ya). Kan ada Allah yang selalu membersamai kita. Sama-sama saling mengingatkan untuk meminta dan berdoa. Kita mah bisa apa tanpa bantuan-Nya hehe”

Air mata itu kembali menetes namun dengan aliran rasa yang berbeda. Bukan takut dan ragu. Namun, syukur dan lega.

* * * * *

Februari 2020 telah tiba. Dan tulisan ini menjadi pembuka lembaran baru dari blog ini. Bagiku, kehidupan tidak dipandang bagaikan garis yang menghubungkan antar dua titik. Beberapa orang seringkali memakai analogi ini dalam mendeskripsikan titik terendah atau titik tertinggi dalam hidupnya. Padahal, bagiku, hidup bisa jadi begitu kompleks. Sesederhana itu.

Maka, aku memakai analogi kehidupan bagaikan sebuah buku. Ada yang dituliskan kembali sebagai sebuah jurnal harian (diary). Ada yang dibagikan dalam berbagai platform media sosial. Ada yang dikisahkan dalam biografi dengan berbagai pencapaian. Ada pula yang diwariskan dalam bentuk cita-cita, ideologi, ide pemikiran maupun logika perasaan. Tenang saja, kalau kau lupa, ada sosok malaikat yang setia mencatat kehidupanmu selama di dunia. Ah itupun kalau kau percaya.

Karena itu, aku pernah menuliskan bahwa hidup ini bukanlah kumpulan titik dan tanda seru, melainkan kumpulan koma dan tanda tanya. Hidup ini sejatinya serangkaian jeda dan makna. Hingga titik bernama kematian itu, aku berikhtiar untuk membangun koma-koma dari kalimat penuh kebaikan dan kebermanfaatan. Hingga seru bernama sangkakala itu, aku akan terus mencari jawaban atas tanya-tanya dalam keseimbangan pikir dan zikir.

Akhir pekan pertama di bulan Februari 2020 insyaAllah akan menjadi momen istimewa. Menikah bermakna persatuan. Bukan hanya dua orang manusia, tapi juga dua keluarga. Aku teringat makna sakinah dalam agama ini, yaitu ketenangan (ketenteraman). Pernikahan menjadi sarana untuk menyusun bangunan sakinah itu. Maka, jika ada 1-2 keraguan yang kurasakan (atau kamu rasakan) hari ini, aku ingin menegaskan dengan senyum mengembang:

“Wahai keraguan, terima kasih telah menjadi kepingan puzzle berharga dari sebuah keyakinan paripurna”

sumber gambar dari sini

Share: