Karena Istri Tidak Boleh Mencari Nafkah

Dalam perjalanan pulang kali ini, istri saya bertanya bagaimana pendapat saya ketika istri mencari nafkah untuk keluarganya, apalagi jika suaminya tidak bekerja misalnya.

Saya tersenyum dan menegaskan bahwa ia tidak boleh mencari nafkah. Dalam agama islam, kewajiban mencari nafkah itu diperintahkan Allah kepada suami. Bukan istri. Di sisi lain, istri akan mendapatkan haknya dari sebagian nafkah tersebut.

Istri saya terheran dengan jawaban saya. Ada perasaan terkejut dan sikap tidak menerima begitu saja jawaban saya. Mungkin jawaban saya seolah-olah menegaskan konsep ibu rumah tangga, istri yang hanya “berdiam diri” di rumah.

Maka saya akhirnya melanjutkan jawaban yang membuat pelukannya semakin erat

“Sayangku, bukan berarti agama ini melarang seorang muslimah untuk bekerja mengejar karier secara profesional, berdagang, atau mengabdi di pemerintahan, LSM, atau aktif di berbagai kegiatan.”

“Begini, adalah suatu kesalahan dan kekeliruan besar dengan istilah bahwa istri mencari nafkah. Ketika istri memperoleh penghasilan, maka uang itu 100 persen miliknya. Lalu jika ia memberikan uang itu untuk suaminya yang tidak bekerja, untuk anak-anaknya, maupun untuk keluarganya seperti orang tuanya, maka sungguh itu kembali ke niatnya”

“Aa pernah mendiskusikan ini dengan Rizki, adik kita yang berkuliah di UIN. Uang yang diperoleh istri lalu dimanfaatkan untuk keluarganya akan bergantung salah satu dari tiga niat. Pertama adalah hibah atau hadiah, biasanya ini berkaitan dengan hal-hal yang cenderung keinginan. Kedua adalah infaq atau sesuatu yang biasanya diberikan sesuai dengan kebutuhan. Dan terakhir adalah zakat atau memang kewajiban seorang muslim atas penghasilannya.”

“Sayangku, untuk menjawab pertanyaanmu, sekali lagi Aa kembalikan ke niat pemberian istri kepada suami atau keluarganya. Mungkin jika suaminya miskin, bisa dikategorikan sebagai zakat ketika berniat demikian. Tapi sejatinya, suami tetap berkewajiban mencari dan memperoleh nafkah. Bahkan 100 rupiah perakpun bisa menjadi cara suami dalam menunaikan kewajiban kepada sang istri.”

“Tentu bisa saja ada kondisi tertentu seperti ketika suami sakit sehingga tidak bisa bekerja. Maka kondisi ini akan menjadi ladang amal bagi sang istri untuk memberikan keberlangsungan hidup bagi keluarganya. Sekali lagi, istri tidak boleh mencari nafkah karena itu merupakan kewajiban suami.”

Istri saya sepertinya puas dengan jawaban saya kali ini. Namun, saya pribadi merasa butuh mendapatkan pembuktian lebih lanjut atas penjelasan panjang lebar di atas. Saya khawatir apa-apa yang disampaikan ternyata berasal dari kekhilafan, bukan berasal dari dalil yang sah dari alQuran maupun asSunnah.

* * * * *

Setelah melakukan pencarian, saya menemukan artikel yang secara umum membahas perkara ini. Dalil tegas tentang kewajiban suami mencari penghasilan dan memberikan nafkah kepada istri terdapat dalam surat AnNisa ayat 34.

“Kaum laki-laki adalah qawwam bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan). Dan karena mereka (laki-laki) menafkahkan sebagian harta mereka..”

Salah satu kaidah dalam agama ini adalah apa-apa yang diperintahkan dalam alQuran akan berlaku hukum wajib, begitupun sebaliknya untuk larangan yang menjadikan hukum haram atasnya. Begitulah, dalil agama ini mewajibkan suami memiliki kelebihan dari segi harta (penghasilan) untuk memenuhi segala hal kebutuhan rumah tangga, istri, hingga keluarga.

Melalui qiyas, saya mendapati sebuah hadist yang menegaskan dosa ketika suami tidak memberikan nafkah bagi istrinya. Hadist di bawah ini menunjukkan amanat yang harus ditunaikan meskipun dalam kondisi amat sulit. Suami yang tidak bekerja sejatinya tidak serta merta menggugurkan kewajibannya dalam memberikan nafkah

“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa jika menahan makan (upah dan sebagainya) orang yang menjadi tanggungannya.” (HR Muslim).

Saya juga menemukan pendapat dari empat mazhab atas kondisi suami yang tidak mampu memberikan nafkah, baik secara lahir dan bathin. Nafkah lahir merupakan kebutuhan dasar yang bisa berkembang seiring dengan tumbuhnya peradaban. Barangkali di zaman sekarang, kebutuhan bukan sekadar sandang-pangan-papan. Bisa jadi ada biaya transportasi, biaya komunikasi, energi listrik, dsb. Adapun nafkah bathin merupakan pemenuhan kebutuhan biologis dan perasaan, khususnya hubungan seksual. Berikut adalah perbedaan dari empat mazhab dalam memandang suami yang tidak bekerja

  1. Ulama mazhab Syafi’i maupun Hanbali berpendapat bahwa istri boleh melakukan fasakh (menuntut pembatalan nikah) atau menggugat cerai ke pengadilan agama. Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah SAW kepada seseorang yang tidak mampu memberi nafkah pada istrinya: “ceraikan mereka,” (HR ad-Daruquthni dan al-Baihaqi dari Abu Hurairah RA).
  2. Selanjutnya, ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa suami istri tersebut tidak boleh dipisahkan, melainkan nafkah itu menjadi utang suami pada istri yang suatu saat wajib dikembalikan jika suami sudah ada kemampuan.
  3. Sedangkan bagi ulama mazhab Maliki, suami yang benar-benar tidak mampu memberi nafkah pada istrinya maka kewajiban nafkah itu guru dari suami.

Akan tetapi, Jumhur fuqaha (mayoritas ulama ahli fikih) berpendapat bahwa dalam keadaan suami tidak mampu memberi nafkah, maka nafkah keluarga menjadi utang suami. Dengan demikian, pada saat ada kemampuan dan rezeki, suami wajib mengembalikan akumulasi nafkah terutang tersebut.

Ah, untuk istri yang bekerja, ulama kontemporer Syekh Yusuf al-Qaradhawi telah mengatakan fatwanya bahwa istri boleh membantu perekonomian keluarga atau bekerja. Hukum mubah tersebut bahkan bisa menjadi sunnah atau wajib apabila sang istri telah berubah status menjadi janda dan tidak ada yang bisa menanggung kebutuhan ekonomi dirinya.

* * * * *

Usai berselancar di dunia cyber dan menuliskannya kembali, saya merasa lega.

Semoga kamu juga merasakannya.

* * * * *

Sayangku, tulisan ini disusun dalam rangka mengingatkan diri ini yang fakir ilmu dan miskin pengetahuan agar berbuat adil sejak dalam pikiran. Berbuat adil sesuai dengan ajaran islam. Berbuat adil sesuai dengan karakter unik pasangan. Doakan Aa dalam upaya menjemput nafkah dari berbagai penjuru dan siapkan dirimu dalam meluaskan kemanfaatan bagi sesama tak pandang bulu. Aa berikhtiar tidak menghalangi dirimu dalam menggapai cita-citamu, termasuk dalam perjalanan karier kehidupan

sumber gambar dari unsplash

Share: