Gembira Yang Asing

Suatu malam

Kita pernah menikmati kehangatan, karena kita pernah kedinginan. Kita menghargai cahaya, karena kita pernah dalam kegelapan. Maka begitu pula kita dapat bergembira, karena kita pernah merasakan kesedihan. Semangat, dhooo. People comes and go. Hold the one who come, let the one who go.

Begitu kalimat dari sahabatku, seminggu yang lalu, sebelum akhirnya aku kembali menuai kesedihan. Aku tersenyum membacanya. Kita kadang hanya butuh kesadaran sejenak ada orang-orang di luar sana yang ma(mp)u dihubungi kapanpun dan sesibuk apapun ia. Orang-orang inilah yang benar-benar membuatku bersyukur bahwa aku tidak sendiri.

Dalam banyak hal, aku mengalami perasaan yang aneh. Gembira yang asing. Cinta yang marah. Kepedulian yang malu-malu. Trauma yang direpetisi. Ketakutan yang ditertawakan. Stres yang ditabung. Senyum yang menyedihkan.

Secara sadar, aku secara acak langsung menghubungi orang-orang terdekat jika perasaan semacam demikian muncul. Diselingi permintaan maaf atas kerandoman yang terjadi, aku sampaikan membutuhkan teman. Hanya untuk memastikan bahwa aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Setidaknya meskipun sejenak

Hilanglah. Bunuh dirimu. Bukan secara harfiah ya.

Sahabatku yang lain pernah menegaskan demikian. Barangkali ia sudah jengah bagaimana aku kerap menceritakan kesakitan, atau pengalaman buruk yang selalu terulang. Sebagai seorang ekstrovert, bercerita secara terbuka dan didengarkan tanpa dihakimi adalah kombinasi terbaik agar aku bisa kembali dari kehilangan.

Aku sadar begitu banyak orang yang hanya memiliki kemampuan mendengar namun tidak dengan mendengarkan. Kepada mereka, aku kadang merasa tidak bisa membalasnya secara setimpal. Mungkin memang tidak saat ini, namun suatu saat nanti. Jika mereka membutuhkan dorongan untuk maju, atau langkah untuk gerak bersama, aku siap untuk membantu, kapanpun, di mana saja.

Saran sahabatku ini kerap kupikirkan. Aku berulang kali bunuh diri, namun ternyata hanya mati suri. Aku tidak sepenuhnya mati. Aku benar-benar ingin bunuh diri dan menjadi seseorang yang baru. Sungguh aku ingin menghilang tanpa sedikitpun menyisakan jejak kenangan.

Bersegeralah memiliki support system lain kalau bisa

Kemarin, kawanku menyahut demikian usai aku menceritakan kelelahan yang amat sangat. Di lain kesempatan, aku pernah menegaskan bahwa aku begitu banyak waktu luang, begitu banyak energi yang tersimpan. Namun pada akhirnya, potensi energi itu hanya mengendap. Energi itu hanya menjadi alasan agar aku menyakiti diri sendiri, lagi, dan lagi.

Posisiku sendiri memang tidak dalam kondisi yang baik. Sistem pendukung utama yang kalian kerap sebut sebagai keluarga kadang membuatku semakin terasing dan terbebani. Aku memiliki adik yang selalu menyimpan amarah dan kesedihan yang lebih berat dariku. Aku memiliki adik yang selalu bercerita bahwa ia kerap merepotkanku dan selalu iri atas diriku. Aku memiliki adik yang akan terbang tinggi, ke tempat ketika masa buku pesta dan cinta memulai kisahnya. Dan ya, aku memiliki orang tua yang sejatinya begitu sayang kepadaku, namun aku selalu merasa tidak bisa menjadi yang terbaik dan membanggakan mereka.

Semakin bertambahnya usia, aku semakin menyadari bahwa aku sendiri. Mereka yang disebut teman pada akhirnya memiliki prioritas masing-masing. Mereka yang disebut sahabat akhirnya memiliki jalan hidup masing-masing. Mereka yang sebelumnya berada dalam satu wadah organisasi akhirnya mengejar mimpi mereka masing-masing. Dan ya, aku barangkali tidak ada di dalam garis waktu tersebut. Aku masih berjalan di tempat dan dibayangi ketakutan.

Sudah berbulan-bulan aku tampak mengenaskan, dan tidak menyenangkan.

Sudah bertahun-tahun aku tampak kelelahan, dan tidak menggairahkan

Dan aku memahami bahwa sebagian dari mereka yang selama ini peduli berharap aku bersinar kembali. Lunar tidak selamanya butuh bantuan sang Surya untuk menunjukkan eksistensinya. Bukankah sang pungguk sadar bahwa bulan akan tetap menjadi sesuatu yang dirindukan meskipun ia tidak akan sekalipun mencapainya?

sumber gambar: unsplash.com

Share: