Adab Komunikasi dengan Orang Tua dan Mertua

Pekan lalu, Abi menyampaikan nasehat kepada saya dan istri terkait adab berkomunikasi dengan orang tua dan mertua sebagai pasangan.

“Nak, kepada orang tua kandungmu, kepada Abi dan Ummi, sampaikanlah hal-hal yang baik tentang istrimu. Jangan pernah sekalipun kamu ceritakan keburukannya, sifat-sifatnya yang membuatmu butuh diskusi lebih lanjut, atau mungkin kesalahannya yang butuh kesabaran lebih untuk belajar memaafkan. Sering-seringlah mendiskusikan hal-hal demikian kepada mertuamu, Bapak atau Mamah. Adab ini juga berlaku sebaliknya atas Lia”

Abi melanjutkan nasehatnya bahwa adab demikian akan membuat perjalanan pernikahan akan lebih bertahan lama dengan tumbuhnya kenyamanan, atau yang kerap disebut dalam agama ini dengan istilah sakinah.

Begini, seharusnya tulisan ini sudah saya susun usai saya menikah dan mulai beradaptasi dengan kehidupan baru di keluarga baru. Sayangnya, saya ternyata butuh waktu lebih untuk merenungi nasehat Abi tersebut secara lebih mendalam. Adab komunikasi yang Abi kemukakan barangkali sederhana, namun saya merasa sulit menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saya adalah orang yang terbiasa menceritakan hampir semua pengalaman hidup kepada orang tua, entah itu Abi atau Ummi. Meskipun tidak bercerita, mereka kerap membaca tulisan-tulisan yang terdapat di blog. Apalagi, usai menikah dan jarak mulai mengemuka, Ummi masih setia menelepon saya untuk menanyakan kabar hampir setiap hari. Dan kehidupan rumah tangga kami berdua sebagai pasangan menjadi bahan utama dalam pembicaraan tersebut.

Sebelum menikah, saya kerap meminta saran dan nasehat kepada orang tua tentang pilihan pasangan hidup sekaligus tingkah-sifatnya yang kerap membuahkan tanya. Semakin saya ragu mendapatkan nasehat dari Abi dan Ummi, semakin saya memahami bahwa semua itu sejatinya bisa menuai curiga dan prasangka. Ummi pernah menegaskan agar jangan sampai Abi dan Ummi bisa menaruh ketidakpercayaan atas keputusan yang saya pilih hanya karena cerita yang didapat dari mulut anaknya ini mayoritas berisi keburukan.

Maka saya belajar sampai sekarang untuk menunjukkan dan menceritakan kebaikan dari istri kepada Abi dan Ummi, sekaligus di sisi lain untuk menunjukkan bagaimana saya menangani sifat-tingkah yang masih kurang dari istri saya tercinta, wabilkhusus di depan mertua. hehe.

Jujur saja, saya merasa kesulitan untuk memulai kebiasaan ini. Ada rasa canggung dan malu untuk memulai bercerita kepada mertua, atau bagaimana saya tidak menunjukkan aib dari istri kepada Abi dan Ummi. Namun saya bersyukur bahwa mertua (khususnya Mamah) adalah orang yang terbuka. Meskipun saya tidak memulai cerita, beliau bisa menceritakan sisi lain dari istri yang mungkin saya perlu ketahui. Begitu saja.

Sebagai penutup. Pada momen tersebut, Abi juga menegaskan cara komunikasi yang baik saat terjadi konflik yaitu dengan berbicara, bukan dengan memendam apalagi menyampaikan tulisan melalui pesan digital. Apalagi kepada mertua, jangan sampai tulisan tersurat itu menyiratkan rasa amarah, rasa kesal, atau perasaan negatif lainnya. Ucapan bisa jadi terlupakan melalui perbuatan. Namun tulisan bisa jadi abadi, sulit dilupakan, dan dapat dikenang dalam hati. Ah, Barangkali Abi membahasakan ulang pernyataan terkenal dari sahabat Ali bin Abi Thalib: “Jangan mengambil keputusan ketika sedang marah dan  jangan membuat janji ketika sedang senang”. 

Saya mengamini: tulisan adalah satu bentuk keputusan dan tidak sepantasnya diukir lalu disampaikan melalui tinta amarah.

sumber gambar dari sini

Share: